SEBANYAK 17 orang terkena tembakan senapan tumbuk dalam bentrokan antar dua desa di Kabupaten Flores Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu, terkait masalah batas wilayah.
Salah seorang warga Lamahala, Rahman Sengaji, yang dihubungi ANTARA dari Kupang, Minggu malam, mengatakan insiden itu terjadi pada saat warga Lamahala, Kecamatan Adonara Timur sedang berjalan menuju kebun mereka di perbatasan antara Adonara Timur dengan Kecamatan Adonara Tengah.
"Penyerangan itu dilakukan secara rahasia. Saat warga Lamahala menuju kebun, warga dari kampung Niwak, Kecamatan Adonara Tengah, menyerang mereka dengan senapan tumbuk."
"Diperkirakan ada 17 orang terkena tembakan, tujuh dalam kondisi serius dan saat ini sudah dilarikan ke Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur untuk mendapat pertolongan medis," katanya.
Dia mengatakan anggota TNI dari Larantuka sudah tiba dilokasi kejadian untuk menjaga keamanan.
Sengaji mengatakan saat ini para orang tua dan pemuda Lamahala sedang mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini. "Sekarang sedang ada pertemuan, kita harapkan ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini," katanya.
Ketua Kerukunan Marga Lamahala (Kemala), Haji Mad Wongso, yang dihubungi secara terpisah mengaku sedang memimpin pertemuan dengan warga Lamahala di Kupang untuk membahas masalah ini.
Menurut dia, hal yang paling penting adalah melakukan pencegahan agar tidak terjadi serangan balik karena bisa menimbulkan jatuhnya korban jiwa dari kedua belah pihak.
"Sekarang ini sedang ada pertemuan para pemuda dan orang tua Lamahala untuk membahas masalah ini. Kami sedang menunggu perkembangan, tetapi sudah disarankan untuk menahan diri walaupun diserang," katanya.
Dia berharap pemerintah segera mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak meluas menjadi pertikaian antar kampung. (Antara)
Monday, March 8, 2010
Wednesday, February 4, 2009
In Demonstration, Chairman of the Legislative Sumut Died
ANARCHIST demonstration by thousands of people in North Sumatra Legislative Building on Tuesday (3 / 2) swallow the victim. Legislative Chairman Abdul Azis Angkat died after receiving unfair treatment participant in demonstration.
That demonstration forced out Legislative to make recommendations as proposed the establishment of Tapanuli Provision (Protap). Only with the recommendations of the DPRD, the expansion process in the RI House of Representatives can be resumed.
Previously, the expansion process of the establishment Protap in Sumut has arrived in the RI House of Representatives. However, rejected because of the expansion have not approved yet or recommendation of the DPRD in North Sumatra.
33sig10/ant
That demonstration forced out Legislative to make recommendations as proposed the establishment of Tapanuli Provision (Protap). Only with the recommendations of the DPRD, the expansion process in the RI House of Representatives can be resumed.
Previously, the expansion process of the establishment Protap in Sumut has arrived in the RI House of Representatives. However, rejected because of the expansion have not approved yet or recommendation of the DPRD in North Sumatra.
33sig10/ant
Didemo, Ketua DPRD Sumut Meninggal Dunia
AKSI unjuk rasa anarkis oleh ribuan orang di Gedung DPRD Sumatera Utara pada Selasa (3/2) menelan korban jiwa. Ketua DPRD Abdul Azis Angkat meninggal dunia setelah menerima perlakuan yang tak semestinya dari para pengunjuk rasa.
Unjuk rasa tersebut memaksa DPRD mengeluarkan rekomendasi sebagai persetujuan atas usul pembentukan Provisi Tapanuli (Protap). Hanya dengan adanya rekomendasi DPRD, maka proses pemekaran di DPR RI dapat dilanjutkan.
Sebelumnya, proses pemekaran wilayah Sumut dengan membentuk Protap telah sampai di DPR RI. Namun pada masa sidang akhir tahun 2008, DPR menolak usul pemekaran itu karena belum ada persetujuan atau rekomendasi dari DPRD Sumatera Utara.
Peristiwa tersebut terjadi ketika di DPRD tengah berlangsung rapat paripurna. Massa pengunjung rasa menerobos ruang sidang utama sambil membawa sebuah peti mati. Ketua DPRD Sumut, Aziz Angkat yang menskor rapat itu dibawa ke ruangan Fraksi Partai Golkar dan dicaci-maki, ditarik-tarik dan bahkan harus menerima perlakukan tidak pantas dari sejumlah pengunjuk rasa.
Diduga tidak kuat menahan serangan, Aziz Angkat terkapar dan kemudian dilarikan ke rumah sakit Gleni Internasional Medan namun tidak tertolong. Konon, ketika itu pula ia mendapat serangan jatung, sebagaimana dikatakan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar.
33sig10/ant
Unjuk rasa tersebut memaksa DPRD mengeluarkan rekomendasi sebagai persetujuan atas usul pembentukan Provisi Tapanuli (Protap). Hanya dengan adanya rekomendasi DPRD, maka proses pemekaran di DPR RI dapat dilanjutkan.
Sebelumnya, proses pemekaran wilayah Sumut dengan membentuk Protap telah sampai di DPR RI. Namun pada masa sidang akhir tahun 2008, DPR menolak usul pemekaran itu karena belum ada persetujuan atau rekomendasi dari DPRD Sumatera Utara.
Peristiwa tersebut terjadi ketika di DPRD tengah berlangsung rapat paripurna. Massa pengunjung rasa menerobos ruang sidang utama sambil membawa sebuah peti mati. Ketua DPRD Sumut, Aziz Angkat yang menskor rapat itu dibawa ke ruangan Fraksi Partai Golkar dan dicaci-maki, ditarik-tarik dan bahkan harus menerima perlakukan tidak pantas dari sejumlah pengunjuk rasa.
Diduga tidak kuat menahan serangan, Aziz Angkat terkapar dan kemudian dilarikan ke rumah sakit Gleni Internasional Medan namun tidak tertolong. Konon, ketika itu pula ia mendapat serangan jatung, sebagaimana dikatakan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar.
33sig10/ant